Guru Penggerak Filosofi Ki Hajar Dewantara: Pemikiran Pendidikan
Ki Hajar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Indonesia yang pemikirannya menjadi landasan filosofis program Guru Penggerak. Pemahaman mendalam tentang konsep pendidikan menurut Ki Hajar sangat penting bagi setiap calon Guru Penggerak.
Tagline Pendidikan Indonesia
Tagline Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani menjadi panduan kepemimpinan pendidikan. Maknanya adalah pemimpin harus memberi teladan di depan, menggerakkan semangat di tengah, dan memberi dukungan di belakang.
Guru Penggerak dituntut menerapkan tagline ini dalam praktik kepemimpinan pembelajaran. Dari memberi contoh teladan bagi siswa, menginspirasi rekan guru, hingga mendukung pertumbuhan profesional secara berkelanjutan.
Konsep Kodrat dan Pendidikan Demokratis
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa setiap anak memiliki kodrat alam dan kodrat zaman yang harus dihormati. Pendidikan berkewajiban mengembangkan kodrat tersebut agar anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidupnya setinggi-tingginya.
Sistem pendidikan demokratis yang diusung menolak cara-cara otoriter dan memperlakukan siswa sebagai subjek yang berhak didengar. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu anak menemukan dan mengembangkan potensi dirinya sendiri.
Sistem Among dan Tritunggal Pendidikan
Sistem among menggambarkan hubungan antara pendidik dan anak didik yang bersifat kekeluargaan dan setara. Pendidik memberi bimbingan tanpa memaksakan kehendak, sementara anak didik belajar dengan kesadaran sendiri.
Tritunggal pendidikan mengintegrasikan tiga aspek pendidikan: kesadaran kemanusiaan, kesadaran kemasyarakatan, dan kesadaran kebangsaan. Ketiga aspek ini harus berkembang seimbang untuk membentuk manusia Indonesia yang utuh.
Implementasi dalam Praktik Guru Penggerak
Filosofi Ki Hajar Dewantara diimplementasikan melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menghormati keunikan masing-masing. Guru Penggerak menciptakan lingkungan belajar yang demokratis di mana setiap suara didengar dan dihargai.
Pemikiran ini juga mendorong Guru Penggerak untuk menjadi teladan dalam komunitas sekolah. Melalui teladan dan bimbingan ala among, guru dapat menggerakkan perubahan positif yang berkelanjutan di satuan pendidikan.
Ditulis oleh
Hendra Wijaya